Well, ga berasa ud mau puasa lagi. 1 Agustus 2011 tinggal 7 hari lagi, sebagian dari kita pasti masih bingung bayar utang puasa yang bolong-bolong tahun kemaren, ada yang heboh siapin event Bubar utamanya dengan kawan-kawan lama, karena di momment Ramadhan biasanya bakal banyak temen yang udah get work di luar kota bakaal mudik :)
Kalau ada yang bingung kemana buat cari menu sahur, apalagi yang anak kost sekarang ga perlu bingung lagi karena KEDAI LANGIT bakal buka dari jam 17.00- 04.00. Kedai Langit punya banyaaaaaak menu pilihan yang bisa kalian santap sahur whiches contains gizi, vitamin, nutrisi yang cukup untuk aktivitas sepanjang hari.
Nah, spesial untuk buka Ramadhan Kedai Langit kasih free ta'jil buat kalian customer terbaik Kedailangit, karena kita ga mungkin langsung makan berat setelah puasa seharian, snack-snack manis KedaiLangit bisa jadi pembuka yang manis untuk berbuka puasa. Dan pastinya banyak paket-paket hemat Ramadhan yang kita kemas dlam Rahmat Ramadhan, MuRAH heMAT Ramadhan ala Kedai Langit.
So, udah ga bingung lagi kan kemana harus menghabiskan ngabuburit dan cari sahur? Karena semua ada di Kedai Langit. Kedai Langit juga memberikan free puding atau buah segar untuk paket-paket buka bersama. Info lebih lanjut bsa kalian dapatkan di Jalan Pandean Sari IV nomor 1 Condong Catur atau phone 0838 67 999907/ 0274 8508582... Add juga fb kedai langit --> kedai_langit@yahoo.com dan follow twitter @kedailangit
Sunday, July 24, 2011
Rahmat Ramadhan ala kedailangit
Wednesday, April 20, 2011
Let it flow
Minggu ini seharusnya menjadi pekan suci bagi umat Katholik (and im include) untuk bisa lebih khusyuk meningkatkan ibadah, bertobat, berpantang dan berpuasa. Tapi entah napa saya merasa biasa-biasa saja, bahkan saya tidak lagi berpantaang kemaren (karena alasan kesehatan sebenarnya).
Hari ini, Kamis Putih perayaan di mana Yesus melakukan perjamuan terakhir dengan murid-muridnya. Tahun-tahun sebelumnya saya selalu menyiapkan dress code apa yang akan saya kenakan misa nanti, melakukan pantang, melakukan planning bersama Bunda tentang jadwal misa hingga masakan apa yang akan kami siapkan untuk perayaan Jumat Agung dan Paskah di rumah eyang hari Minggu nanti.
Namun hari ini saya merasa nothing's special, semua mengalir seperti biasa. Setumpuk job desc di atas meja kantor saya, berkas yang harus selesai hari ini juga, dan masih dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya.
Saya bahkan tidak tahu mau misa jam berapa nanti malam, mungkin saya hanya akan mengenakan polo shirt tanpa menyiapkan dress code.
Sempat terbersit bebrapa hal yang ingin saya lakukan long weekend ini, tapi saya urungkan niat saya untuk merangkai plan karena takut semua akan berantakan.
Now, saya lebih memilih untuk stay calm. Let it flow. Karena terlalu banyak rencana saya yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan saya. Mungkin saya terlalu lancang meminta Tuhan mengabulkan apa yang saya inginkan tapi tidak menjadi kehendaknya. Kini saya mulai sedikit me -revisi setiap doa dan mengubah mindset. Saya mau Tuhan memberikan yang terbaik dan mengabulkan harapan saya yang sekiranya sesuai dengan kehendakNya dan mulai ber mind set bahwa "adalah penting untuk memiliki rencana agar kita punya tujuan, tapi bukan berarti ngoyo" jadi yaaa let it flow, boleh bermimpi tapi realistis, boleh berencana tapi jalani apa yang ada apa adanya.
Hari ini, Kamis Putih perayaan di mana Yesus melakukan perjamuan terakhir dengan murid-muridnya. Tahun-tahun sebelumnya saya selalu menyiapkan dress code apa yang akan saya kenakan misa nanti, melakukan pantang, melakukan planning bersama Bunda tentang jadwal misa hingga masakan apa yang akan kami siapkan untuk perayaan Jumat Agung dan Paskah di rumah eyang hari Minggu nanti.
Namun hari ini saya merasa nothing's special, semua mengalir seperti biasa. Setumpuk job desc di atas meja kantor saya, berkas yang harus selesai hari ini juga, dan masih dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya.
Saya bahkan tidak tahu mau misa jam berapa nanti malam, mungkin saya hanya akan mengenakan polo shirt tanpa menyiapkan dress code.
Sempat terbersit bebrapa hal yang ingin saya lakukan long weekend ini, tapi saya urungkan niat saya untuk merangkai plan karena takut semua akan berantakan.
Now, saya lebih memilih untuk stay calm. Let it flow. Karena terlalu banyak rencana saya yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan saya. Mungkin saya terlalu lancang meminta Tuhan mengabulkan apa yang saya inginkan tapi tidak menjadi kehendaknya. Kini saya mulai sedikit me -revisi setiap doa dan mengubah mindset. Saya mau Tuhan memberikan yang terbaik dan mengabulkan harapan saya yang sekiranya sesuai dengan kehendakNya dan mulai ber mind set bahwa "adalah penting untuk memiliki rencana agar kita punya tujuan, tapi bukan berarti ngoyo" jadi yaaa let it flow, boleh bermimpi tapi realistis, boleh berencana tapi jalani apa yang ada apa adanya.
goresan pena yg saya unggah ke blog
My mind goes to the momment we met
5 seconds stuck, unbelievable that u came to town
Spend several days felt like hours
Even when we had much times, it seemed like few only...
Amazing is the only word that can describe when i could feel your breath
I could stand by you, smell your fragrance so deep
And this time, lonelliness is killing
time goes by and you never come
Only in my dream i could reach u...
If anybody ask what i want, i want nothing
but U
yes, i want u...
be here
by my side
so I can lay my head on ur arms, so i can feel your breath again as I did...
5 seconds stuck, unbelievable that u came to town
Spend several days felt like hours
Even when we had much times, it seemed like few only...
Amazing is the only word that can describe when i could feel your breath
I could stand by you, smell your fragrance so deep
And this time, lonelliness is killing
time goes by and you never come
Only in my dream i could reach u...
If anybody ask what i want, i want nothing
but U
yes, i want u...
be here
by my side
so I can lay my head on ur arms, so i can feel your breath again as I did...
Saturday, April 9, 2011
somebody's me
You, do you remember me?
Like I remember you?
Do you spend your life
Going back in your mind to that time?
Because I, I walk the streets alone
I hate being on my own
And everyone can see that I really fell
And I'm going through hell
Thinking about you with somebody else
Somebody wants you
Somebody needs you
Somebody dreams about you every single night
Somebody can't breath without you, it's lonely
Somebody hopes that one day you will see
That Somebody's Me
How, How could we go wrong
It was so good and now it's gone
And I pray at night that our paths soon will cross
And what we had isn't lost
Cause you're always right here in my thoughts
Like I remember you?
Do you spend your life
Going back in your mind to that time?
Because I, I walk the streets alone
I hate being on my own
And everyone can see that I really fell
And I'm going through hell
Thinking about you with somebody else
Somebody wants you
Somebody needs you
Somebody dreams about you every single night
Somebody can't breath without you, it's lonely
Somebody hopes that one day you will see
That Somebody's Me
How, How could we go wrong
It was so good and now it's gone
And I pray at night that our paths soon will cross
And what we had isn't lost
Cause you're always right here in my thoughts
Thursday, April 7, 2011
apakah wanita cantik selalu bahagia?
Dalam buku Psychology Applied To Modern Life, dikutip hasil penelitian Wolsic Diener berikut ini: “Given that physical attractiveness is an important resource in Western society, we might expect attractive people to be happier than others, but the available data indicate that the correlation between attractiveness and happiness is negligible.”
Negligible artinya ‘tidak berarti’, ‘tidak signifikan’, atau ‘sedemikian kecil sehingga tidak perlu diperhitungkan.’ Kalau menurut saya pribadi, malah efeknya berbanding terbalik. Alias semakin cantik wanita, semakin dia sulit untuk merasakan kebahagiaan yang stabil.
Berikut adalah sepuluh penjelasannya.
Negligible artinya ‘tidak berarti’, ‘tidak signifikan’, atau ‘sedemikian kecil sehingga tidak perlu diperhitungkan.’ Kalau menurut saya pribadi, malah efeknya berbanding terbalik. Alias semakin cantik wanita, semakin dia sulit untuk merasakan kebahagiaan yang stabil.
Berikut adalah sepuluh penjelasannya.
- Kecantikan itu kompetitif. Wahai pria, sadarilah bahwa wanita mempercantik dirinya bukan untuk menarik perhatian Anda, melainkan demi mengimbangi dan mengalahkan wanita lainnya. Jika Anda memiliki sahabat wanita yang cantik, Anda pasti bisa merasakan ‘kompetisi rahasia’ ini dengan wanita cantik lainnya. Mereka terlihat sangat bersahabat satu sama lain, namun di detik berpisah sejenak saja (misalnya ke toilet), masing-masing akan akan saling membicarakan yang lain dengan nada yang agak miring menjatuhkan. Kehadiran wanita cantik lain akan selalu membuat seorang wanita merasa tidak cukup cantik, walaupun ia tidak akan mengakuinya secara verbal. Wanita memang cenderung membandingkan dirinya dengan wanita lain, tapi wanita cantik selalu melakukannya. Tidak heran mereka merasa insecure. Ketika bercermin, mereka berharap melihat refleksi diri yang dua kali lebih cantik daripada diri sebenarnya dan tiga kali lebih cantik daripada wanita tercantik lainnya. Inilah yang memicu ucapan terkenal yang sangat kompetitif itu, “Mirror mirror on the wall, who’s the prettiest of all?“
- Kecantikan itu adiktif. Lebih tepatnya, menarik perhatian dan menjadi pusat perhatian itu adiktif alias mencandu. Sebagai manusia, kita selalu butuh diperhatikan. Sekali saja kita merasakan nikmatnya jadi pusat perhatian, maka kita selalu menginginkannya dan merasa tidak dapat hidup tanpanya. Kehilangan perhatian dari satu pria saja, sekalipun masih ada perhatian dari 99 pria lainnya, bisa membuat seorang wanita cantik merasa gerah, kalang kabut, dan berusaha mengejar sang satu pria ‘brengsek’ itu. It’s based on our real life experiments, guys, one of the success principles we teach in Hitman System classes.
“Same thing happens to drug addicts when they don’t have drugs, they go through withdrawls. Beautiful women base their happiness based on the people around them from constant praise from others. Perhaps they are more sensitive to what people think, making them feel insecure more often.“ - Kecantikan itu diskriminatif. Tadi Anda sudah baca bahwa wanita cantik diperlakukan lebih manis, lebih disukai, dan lebih-lebih lainnya. Namun diskriminasi itu juga tidak selalu menguntungkan mereka, ada juga efek negatifnya. Jika sang wanita cantik kebetulan lalai, malas, ceroboh, atau tidak terampil, maka mereka akan lebih dihakimi, diledek, direndahkan daripada wanita lain yang bersikap sama namun tidak berpenampilan cantik. Kecantikan adalah pedang bermata ganda.
- Kecantikan itu dusta bisnis raksasa. Wanita terus dimanipulasi oleh media dan industri kecantikan untuk mempercantik dirinya tanpa pernah berhenti. Mereka hanya bisa bahagia sejenak setelah mengkonsumsi produk tertentu, lalu merasa kurang bahagia lagi ketika melihat seorang bintang iklan yang lebih muda dan lebih kurus. Majalah wanita penuh dengan artikel yang mencuci otak mereka bahwa dengan menurunkan berat badan mereka bisa mendapat seluruh kemudahan hidup: pernikahan, seks, dan karir. Itu adalah dusta-dusta yang selalu diumbar oleh media dan alasannya adalah jelas motif bisnis. Wanita Amerika rata-rata menghabiskan $12,000 per tahun untuk perawatan kecantikannya, jadi bayangkan betapa besar kerugian industri kecantikan jika seluruh wanita bisa merasa dirinya cantik tanpa perlu kosmetika. Dengan merepresentasikan kecantikan yang terlalu ideal dan sulit diikuti, industri kosmetik dan produk diet akan terjamin masa depannya. Jadi wanita cantik bisa lebih bahagia jika mereka berhenti melihat iklan di majalah dan TV.
- Kecantikan itu sarat ide utopian. Dalam bahasa sehari-hari utopian bisa diartikan ‘khayalan’ atau ‘menarik tapi tidak dapat diterapkan’. Ada banyak contoh namun saya beri satu saja. Anda pasti tahu boneka Barbie? Nah para periset medis sudah meneliti bahwa proporsi tubuh Barbie ternyata sangat berbahaya dilakukan di dunia nyata. Punggungnya terlalu lemah untuk menyokong berat bagian tubuh atas dan tubuhnya terlalu sempit sehingga hanya bisa merusak hati, ginjal, dan saluran pencernaan lainnya. Wanita yang benar-benar berbentuk seperti itu dipastikan mengalami penyakit lambung yang kronis dan cenderung meninggal karena malnutrisi. Yang mengerikan adalah menurut survei, 99% dari anak kecil usia 3 – 10 tahun di seluruh dunia sangat mencintai figur Barbie dan memiliki setidaknya satu boneka saja. Silakan duga-duga sendiri seberapa kurang bahagia mereka ketika besar nanti menyadari bahwa figur tubuh impiannya itu tidak mungkin dicapai dengan keadaan tubuh yang sehat.
- Kecantikan itu topeng yang menyulitkan. Karena sudah cantik dan indah, wanita cantik jarang dianggap punya masalah. Semua orang (terutama pria!) menganggap wanita cantik menjalani hidup dengan mudahnya. Akibatnya wanita demikian jadi sulit sekali untuk bersahabat apa adanya dengan orang lain. Mereka terpaksa mengamini ekspektasi orang lain bahwa hidup mereka itu selalu indah, karena toh bercerita tentang kesulitan hidup hanya akan diresponi dengan tidak percaya atau tidak serius, “Ah sudahlah, itu bukan masalah… kamu kan cantik, ga perlu repot mikirin itu.” Jadi daripada curhat, lebih baik mereka menyimpan dan menangisi sendiri. Itu sebabnya banyak wanita cantik yang sering berkesan sok positive-thinking, sehingga kita juga semakin terbius bahwa hidup mereka enak-enak saja. Mengutip salah satu bagian dari tulisan When Beauty Hides Pain, “Lots of celebrities and regular people alike struggle with self-esteem issues and substance abuse problems among other demons. I wonder if the beauty and accolades don’t just hide their pain from the public for a time–but from them as well. And if beauty is hiding hurt, it doesn’t matter how much beauty you have–things will get ugly at some point.“
- Kecantikan itu obsesi metropolitan. Dalam penelitian Victoria Plaut, Does Attractiveness Buy Happiness?, ia menemukan bahwa jawabannya ya hanya jika sang wanita tinggal di daerah perkotaan. Wanita cantik yang tinggal di pedesaan tidak akan begitu merasakan perbedaan kebahagiaan atau kenikmatan tersebut. Anda pasti sudah sering melihat mahasiswi dari daerah yang pindah ke kuliah ke Jakarta, kecantikannya meningkat seiring tingkat semesternya. Kecantikan adalah kebutuhan baru yang dikonstruksikan (baca: ditekankan, dipaksakan) oleh masyarakat modern. Victoria menambahkan, “There’s a lot of social pressure in the city. While in the rural areas and country, there’s a sense of stability and comfort. You feel like you can just be yourself. Part of that sense of acceptance comes from having friends you’ve known since elementary school. It’s not like living in the city where you’re surrounded by so many unknown faces. Rural people have known you since you were little. So you don’t feel pressure to be cool to fit in.“
- Kecantikan itu membingungkan. Semua orang menyarankan jadi diri sendiri apa adanya. Bahkan semua media televisi dan majalah juga menyuarakan seperti itu. Anehnya, kita juga dibombardir dengan produk kosmetika yang membuat diri Anda lebih indah secara alamiah, “Get that natural beauty with product X and Y!” Alamiah tapi kok pakai produk? Paradoks. Kebetulan sekali saya kemarin ini membaca ucapan seorang gadis berusia 16 tahun di majalah Girl Talk. “Magazines have ads of how you should dress and what you should look like and this and that. And then they say, ‘but respect people for what they choose to be like.’ Ehm okay… so which do we do first?“
- Kecantikan itu menyakitkan. Wanita cantik menderita secara fisik dan finansial ketika sadar bahwa dirinya cantik dan perlu mempertahankan kecantikannya itu. Saya sudah jelaskan panjang lebar dalam tulisan Harga Dari Kecantikan.
- Kecantikan itu temporer. Jauh di dalam dirinya, setiap wanita menyadari bahwa kecantikan mereka memiliki batas kadaluarsa. Usia produktif kecantikan kurang lebih sepuluh tahun saja, kasarnya dari usia 17-27. Itu sebabnya semakin mendekati batas akhir, wanita cantik semakin selektif dalam memilih pasangan, bitchy, atau sejenisnya karena ‘tahu’ bahwa jadwal tayang kecantikan-alamiah mereka sudah nyaris habis. Menjelang usia 30an, mereka yang punya resources untuk membeli kosmetik ‘kecantikan-alamiah’ akan terus membudidayakan sikap seperti itu, sementara mereka yang tidak mampu mulai menurunkan standar preferensi pasangannya. Tapi tidak peduli berasal dari kaum the haves atau the havenots, wanita cantik selalu dibayang-bayangi kecemasan abadi, “Apa yang akan terjadi seandainya saya tidak cantik lagi? Apakah mereka masih mau jadi teman saya? Apakah kekasih saya tetap mencintai saya?” Ini adalah kekhawatiran yang tidak menghantui para wanita yang kurang diberkahi dengan kecantikan.
Monday, April 4, 2011
apakah ini cukup atau tidak?
“Cukup ya cukup”, adalah sebuah ungkapan basa-basi yang biasanya berarti tidak cukup. Tak cukup menjelaskan “seberapa yang cukup”.
Seorang lulusan “segar” universitas mendapat gaji satu juta perbulan, Apa ini cukup? Mungkin tidak sih, tapi apa ia punya pilihan lain? Ia melihat ke sekelilingnya dan menemukan bahwa teman-temannya juga mendapat gaji yang sama pada mulanya. Apa ini cukup? Baiklah, untuk saat ini, ok juga, fine, cukup.
Seorang lulusan “segar” universitas mendapat gaji satu juta perbulan, Apa ini cukup? Mungkin tidak sih, tapi apa ia punya pilihan lain? Ia melihat ke sekelilingnya dan menemukan bahwa teman-temannya juga mendapat gaji yang sama pada mulanya. Apa ini cukup? Baiklah, untuk saat ini, ok juga, fine, cukup.
Seorang buruh untuk mendapat upah sebesar itu harus bekerja dulu selama bertahun-tahun, dan walaupun ini tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia tak banyak mengeluh. Ia tahu bahwa banyak orang yang mendapat upah lebih sedikit ketimbang dia, sehingga ia mencoba memenuhi kebutuhan sampai akhir bulan dengan gaji yang ia peroleh. Tapi, apa ini cukup? Baiklah, ok juga, cukup.
Tanyalah pada seorang pembantu rumah tangga; ia bekerja hampir sepanjang hari. Dan, ia mendapat gaji lebih sedikit ketimbang seorang lulusan baru universitas yang hanya bekerja selama 8 jam sehari. Apa ia mengeluh? Apa ia iri pada para lulusan tersebut? Tidak, karena ia tahu bahwa mereka layak untuk itu, “Ia terdidik, sedangkan aku tidak.”
Setahun kemudian….
Lulusan ini bukan lagi “fresh graduate”, gajinya naik hingga 50 persen. Dan ia melihat ke sekelilingnya; ia menemukan bahwa beberapa temannya mendapat gaji lebih banyak. “Apa yang kamu katakan kawan? Apa peningkatan gaji ini cukup?” Ia menjawab, “Tidak, lihatlah temanku yang bekerja di perusahaan lain. Ia sekarang mendapat 2 juta rupiah setiap bulan plus bonus tunjangan lagi.”
Dan… kita berjumpa pula dengan buruh yang dengan susah payah mendapat peningkatan upah 10 persen saja, sama dengan yang diperoleh pembantu rumah tangga. Mereka begitu bahagia, “Kami baru mendapat kenaikan upah 10 persen lho. Lumayan, terimakasih Tuhan!”
Maka, bagaimana kita menyikapi keluhan si lulusan universitas ini?
Pertama-tama, apakah kedua hal ini bisa disikapi secara pukul rata?
Dan, kalau memang keluhan si lulusan universitas masuk di akal, lantas bagaimana komentar kita tentang buruh dan pembantu rumah tangga yang bisa merasa puas dengan peningkatan upah yang hanya 10 persen saja?
Pertanyaannya ialah, kapan cukup benar-benar cukup?
Dan, kapan tidak?
Dan, pertanyaannya lagi ialah, kapan sebuah keluhan itu layak dipertimbangkan dan masuk di akal?
Dan, kapan tidak?
Keluhan layak dipertimbangkan dan masuk di akal ketika ini dibuat oleh orang yang benar-benar pantas dihargai. Ini tak perlu dihiraukan saat dibuat oleh seseorang yang memang tak layak.
Apakah selama setahun ini si lulusan berkembang kemampuannya? Apa ia bekerja dengan baik? Apa ia berprestasi dengan memberi kontribusi tertentu? Dia juga harus mempertimbangkan ukuran dan kemampuan perusahaan tempat ia berkerja dong. Jika seniornya menerima bayaran 2 juta setelah bekerja selama 4 tahun, maka jelas ia tak dapat mengklaim gaji yang sama karena baru bekerja selama setahun. Dalam kasus semacam itu, perusahaan mungkin terlalu kecil baginya. Ia bisa bekerja keras untuk membuat perusahaan ini lebih besar, atau keluar dan cari perusahaan lain.
Jika selama setahun ini ia tak berkembang, ia masih terus menerus membuat kesalahan yang sama, dan cara kerjanya tak layak dihargai oleh majikannya – maka keluhannya sama sekali tak beralasan. Ia tak dapat mengharapkan gaji yang lebih tinggi hanya karena temannya yang bekerja di perusahaan lain di bayar lebih tinggi. Ini karena rasa iri saja.
Kita harus mempertimbangkan dan meninjau kemampuan kita sebelum mengeluh.
Karena, apa yang kita peroleh atau apa yang seharusnya kita peroleh seluruhnya bergantung pada apa yang kita perbuat – yang telah kita lakukan. Jangan mengharapkan output yang baik, jika inputnya jelek. Jangan mengharapkan peningkatan, jika kamu tak melakukan apapun guna mencapainya.
Kata “cukup” sebenarnya rancu. Ini salah kaprah. Tak berarti apa-apa. Karena ini tak ada ukuran bakunya.
Kata “cukup” sebenarnya rancu. Ini salah kaprah. Tak berarti apa-apa. Karena ini tak ada ukuran bakunya.
Jika kamu ingin menggunakan kata ini, maka kamu harus mendefinisikannya sesuai kriteriamu sendiri. Apa yang cukup untukmu bisa jadi tak cukup untuk ku, ya…Bagaimana kamu mendefinisikannya berbeda dengan bagaimana aku mendefinisikannya, ya…tapi, kita harus tahu pasti kemampuan kita sebelum mendefinisikannya, sebelum kita menentukan kriterianya.
Orang bodoh berkata “ tidak cukup” dengan bodoh pula.
Orang bodoh mengeluh terus dengan bodoh pula.
Orang bijak tak pernah mengeluh.
Mereka tak ada waktu untuk itu. Mereka tak mau menghabiskan energi untuk hal semacam itu. Mereka justru bekerja keras untuk merubah yang “tidak cukup” menjadi “cukup”.
Maka, terakhir, seperti apa sih yang cukup dan yang tak cukup?
Kita hanya mengeluh ini tak cukup ketika kemampuan kita tak berkembang, bertumbuh, dan mampu merubah yang tak cukup itu. Dengan kata lain, keluhan kita sebenarnya pelarian saja.
Mereka yang penuh percaya diri dan pada kemampuannya, mereka yang bertekad untuk terus berkembang, bertumbuh dan berubah – tak pernah mengeluh.
“Apa yang kuperoleh tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pengobatan sakit punggung Ibu di desa sana,” kata seorang teman.
“Ya, cari kerjaan yang lebih baik dong.” Aku menasehatinya.
“Apa yang kuperoleh tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pengobatan sakit punggung Ibu di desa sana,” kata seorang teman.
“Ya, cari kerjaan yang lebih baik dong.” Aku menasehatinya.
“Tapi, amat sulit menemukan pekerjaan yang lain.” Ia menjelaskan.
Apa kamu melihat sebuah cara pandang di sini?
Jika memang sulit mencari pekerjaan, itu karena kamu sama dengan orang kebanyakan. Bursa kerja tak membutuhkanmu. Sehingga, kenapa kamu mengeluh?
Tapi, ia mempunyai seorang istri dan 3 anak untuk dinafkahi.
Dia juga harus membiayai pengobatan ibunya yang sakit….Baik, baik., baik majikanmu bisa jadi bersimpati denganmu. Tapi, ada 999 pegawai lain yang punya masalah yang sama. Dan, perusahaan memiliki skala pembayanan tertentu. Di atas segalanya, sebuah lembaga bisnis bukanlah lembaga sosial. Tujuannya amat jelas, komersil.
Ketika kamu merasa sulit untuk mencari pekerjaan lain, pekerjaan yang lebih baik – maka keluhanmu tak berarti sama sekali. Maka, terimalah “Cukup ya cukup” – untuk selamanya.
Ketika kamu tak merasa kesulitan untuk mendapat pekerjaan lain dengan prospek yang lebih baik – maka kamu tak perlu mengeluh. Kamu jarus bergerak untuk meraih pekerjaan itu.
Dan dalam kasus lain, keluhanmu tak masuk di akal, tak ada gunanya.
Maka, berhentilah mengeluh, cukup ya cukup…Gunakan seluruh energimu untuk bekerja untuk peningkatan hidupmu daripada memboroskan energi untuk mengeluh terus-menerus.
re post from aumkar.org
nothing to do dan muncullah tulisan ini
Jogjakarta, kota gudeg, kota pelajar, kota budaya, kota wisata, kota berhati nyaman. Sejuta a.k.a untuk Jogja yang memang memiliki sejuta pesona. Rutinitas pagi hari saya harus terusik hari ini karena 'blacky' ngadat minta dirawat. Saya jadi tidak bisa merasakan padat merayapnya Demangan pagi ini, sebagai gantinya obrolan para car owner jadi 'teman siang hari' saya di bengkel.
Kalau kemarin hujan tak kunjung berhenti dari saya melek hingga melek lagi tadi pagi, hari ini Jogja cukup bright and sunny. Jogja memang bukan tempat kelahiran saya tapi entah napa saya merasa jiwa saya ada di sini. Jogja yang dinamis dan up to date tapi masih tetap 'njawani', berisi ratusan penduduk multi kultur namun tetap akur. Malioboro dengan keriuhan 'english speaking' para tukang becak yang menawarkan tour Dagadu ke turis wisman kadang membuat saya geli, Museum Vredeburg dan Monumen Sebelas Maret dan "Oyot Godhong" dengan eksotika makanan serta beverages traditional yang bisa dinikmati sambil menikmati padatnya Jalan malioboro dari roof top. Ratu Boko dengan pesona sunset view dan restonya, Bukit Bintang di mana saya bisa melihat hampir seluruh Jogja yang 'gemerlap di malam hari, Kedai Langit yang selalu memberikan ketenangan tiap kali jari-jari saya mulai mengetik, Ambarukmo Plaza yang memberikan semua kebutuhan lifestyle saya, Kaliurang dengan hawa dinginnya yang meskipun menjadi sedikit messy pasca tragedi Merapi erruption (namun tetap eksotis menurut saya), dan Parangtritis sebagai pantai yang paling dekat dijangkau dari pusat kota, Gua Maria Ganjuran dan Sriningsih yang selalu menjadi tujuan saya ketika saya rindu untuk mengadu padac Bunda, dan masih sangat banyak interesting place right here.
Di sini saya belajar mengasah kemampuan berbicara, di sini saya belajar meretas bisnis, di sini saya mendapatkan first driving license, di sini saya meraih gelar Diajeng sebagai ambasadress, di sini tempat keluarga besar saya berkumpul mulai dari eyang dan seluruh kerabatnya. Dan di sini saya bertemu dengan cinta saya untuk pertama kalinya. Dan kalau Tuhan berkenan, I want to spend the rest of my life here with the one I love and my family.
Jogja, sejuta cinta, sejuta pesona, sejuta kenangan.
Kalau kemarin hujan tak kunjung berhenti dari saya melek hingga melek lagi tadi pagi, hari ini Jogja cukup bright and sunny. Jogja memang bukan tempat kelahiran saya tapi entah napa saya merasa jiwa saya ada di sini. Jogja yang dinamis dan up to date tapi masih tetap 'njawani', berisi ratusan penduduk multi kultur namun tetap akur. Malioboro dengan keriuhan 'english speaking' para tukang becak yang menawarkan tour Dagadu ke turis wisman kadang membuat saya geli, Museum Vredeburg dan Monumen Sebelas Maret dan "Oyot Godhong" dengan eksotika makanan serta beverages traditional yang bisa dinikmati sambil menikmati padatnya Jalan malioboro dari roof top. Ratu Boko dengan pesona sunset view dan restonya, Bukit Bintang di mana saya bisa melihat hampir seluruh Jogja yang 'gemerlap di malam hari, Kedai Langit yang selalu memberikan ketenangan tiap kali jari-jari saya mulai mengetik, Ambarukmo Plaza yang memberikan semua kebutuhan lifestyle saya, Kaliurang dengan hawa dinginnya yang meskipun menjadi sedikit messy pasca tragedi Merapi erruption (namun tetap eksotis menurut saya), dan Parangtritis sebagai pantai yang paling dekat dijangkau dari pusat kota, Gua Maria Ganjuran dan Sriningsih yang selalu menjadi tujuan saya ketika saya rindu untuk mengadu padac Bunda, dan masih sangat banyak interesting place right here.
Di sini saya belajar mengasah kemampuan berbicara, di sini saya belajar meretas bisnis, di sini saya mendapatkan first driving license, di sini saya meraih gelar Diajeng sebagai ambasadress, di sini tempat keluarga besar saya berkumpul mulai dari eyang dan seluruh kerabatnya. Dan di sini saya bertemu dengan cinta saya untuk pertama kalinya. Dan kalau Tuhan berkenan, I want to spend the rest of my life here with the one I love and my family.
Jogja, sejuta cinta, sejuta pesona, sejuta kenangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)




